SIAPAKAH yang mampu hidup tanpa cinta?
Perempuan manakah yang bisa membangun singgasana rumah tangganya tanpa cinta? Ia bertanya pada dirinya sendiri dengan hati pilu.
Tak ada! Jawabnya sendiri.
Perempuan manakah yang bisa membangun singgasana rumah tangganya tanpa cinta? Ia bertanya pada dirinya sendiri dengan hati pilu.
Tak ada! Jawabnya sendiri.
Kecuali, manusia yang hidup tanpa hati dan nurani, seperti pelacur yang
biasa hidup nista dan mendustakan cinta. Bahkan seekor merpati yang
tiada dikaruniai akal pikiran menerima pasangan hidupnya atas dasar
cinta. Tuhan menciptakan mahklukNya di semesta raya ini juga atas dasar
kehendak dan cintaNya. Matahari, rembulan dan bintang bersinar karena
cinta. Lautan menampung segala sisa dan kotoran yang mengalir dari
daratan dengan penuh cinta. Sungai mengalir karena cinta. Angin bertiup
karena cinta. Pohon berbuah karena cinta. Bunga-bunga bermekaran karena
cinta. Lebah meneteskan madu karena cinta. Dan hidup ini pada asalnya
adalah aliran cinta. Sumbernya adalah samudra cinta Allah yang meliputi
semesta. Dan segala benda dalam alam raya tunduk patuh menyembah Allah
juga atas dasar cinta. Bukankah kesejatian penyembahan dan kepatuhan itu
terlahir dari kedahsyatan cinta? Lalu kenapa selalu saja ada yang
mengusik hukum cinta?
Ia masih terduduk diatas sajadahnya. Kedua matanya terpejam. Dari dua sudut matanya keluar tetesan bening seperti embun.
Oh, haruskah aku gadaikan hidupku ini? Pasrah tercampak tanpa mimpi mulia seperti pelacur hina yang kalah oleh nafsunya. Hampa, pahit dan getir tanpa cinta. Oh! Bukankah lebih baik aku mati saja jika harus menyerahkan mahkota kehormatan tanpa cinta. Menerima pasangan hidup dengan hati perih tersiksa. Merentas hidup baru hanya untuk mereguk nestapa selamanya. Melayani suami tanpa cinta. Terpaksa dan tersiksa. Melahirkan anak tanpa rasa bangga. Hidup selamanya diatas derita batin tiada tara.
Jika demikian adanya, bukankah aku lebih kalah dari pelacur itu. Mereka mereguk hidupnya atas kehendaknya, atas pilihannya, bahkan mereka bisa begitu menikmati hidup yang dijalani meskipun menistakan cinta. Tapi aku, aku akan hidup dalam bara belenggu keterpaksaan dan pemerkosaan sampai akhir hayat! Kenapa aku mesti mereguk kekalahan ini? Kekalahan untuk hidup ditinggal cinta, dipeluk kebencian dan kehinaan. Kenapaa!? Bukankah ini azab yang tiada tara perihnya? Apakah aku memang berhak menerima azab sepedih ini? Dosa apakah yang telah aku perbuat?
Pertanyaan-pertanyaan itu mencerca dan menusuk-nusuk ulu hatinya. Merajam-rajam batok kepalanya. Sakit, nyeri, perih dan pedih. Air matanya meleleh.
Ia baca sekali lagi surat penting dari ayahnya. Surat yang membuatnya kehilangan semangat untuk hidup. Dan membuat ia begitu membenci dirinya sendiri. Surat yang ia rasakan bagaikan vonis masuk neraka selama-lamanya. Padahal, saat itu ia sedang menunggu hari terindah dalam hidupnya.
Ia masih terduduk diatas sajadahnya. Kedua matanya terpejam. Dari dua sudut matanya keluar tetesan bening seperti embun.
Oh, haruskah aku gadaikan hidupku ini? Pasrah tercampak tanpa mimpi mulia seperti pelacur hina yang kalah oleh nafsunya. Hampa, pahit dan getir tanpa cinta. Oh! Bukankah lebih baik aku mati saja jika harus menyerahkan mahkota kehormatan tanpa cinta. Menerima pasangan hidup dengan hati perih tersiksa. Merentas hidup baru hanya untuk mereguk nestapa selamanya. Melayani suami tanpa cinta. Terpaksa dan tersiksa. Melahirkan anak tanpa rasa bangga. Hidup selamanya diatas derita batin tiada tara.
Jika demikian adanya, bukankah aku lebih kalah dari pelacur itu. Mereka mereguk hidupnya atas kehendaknya, atas pilihannya, bahkan mereka bisa begitu menikmati hidup yang dijalani meskipun menistakan cinta. Tapi aku, aku akan hidup dalam bara belenggu keterpaksaan dan pemerkosaan sampai akhir hayat! Kenapa aku mesti mereguk kekalahan ini? Kekalahan untuk hidup ditinggal cinta, dipeluk kebencian dan kehinaan. Kenapaa!? Bukankah ini azab yang tiada tara perihnya? Apakah aku memang berhak menerima azab sepedih ini? Dosa apakah yang telah aku perbuat?
Pertanyaan-pertanyaan itu mencerca dan menusuk-nusuk ulu hatinya. Merajam-rajam batok kepalanya. Sakit, nyeri, perih dan pedih. Air matanya meleleh.
Ia baca sekali lagi surat penting dari ayahnya. Surat yang membuatnya kehilangan semangat untuk hidup. Dan membuat ia begitu membenci dirinya sendiri. Surat yang ia rasakan bagaikan vonis masuk neraka selama-lamanya. Padahal, saat itu ia sedang menunggu hari terindah dalam hidupnya.

0 Response to "Setetes Embun Luka"
Post a Comment